Menu
header photo

Title

Subtitle

Pemahaman Aqiqah Merujuk Agama Islam

January 28, 2017

Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: memotong. Asalnya disebut ‘Aqiqah, karena dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan jika aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang ditemui pada penyelenggara si balita ketika ia keluar daripada rahim permulaan, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk bocah laki-laki & 1 upaya untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Atas Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi pamor dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan budak perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, oleh sebab itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi oleh sebab itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang serupa dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, beliau memberi identitas dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak bagian 4, sesuatu. 264]

Pemberitahuan: Hasan & Husain adalah cucu Nabi SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Hasan, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua puluh satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Norma Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah merupakan hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya buangan (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun sungguh bersifat wajib, karena terselip sabdanya yang memalingkan atas kewajiban adalah: “Barangsiapa di antara kalian siap yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh dalam aqiqah berikut hewan yang picak, mersik, patah urat, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam satwa aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan mengotori kepalanya beserta darah kibas itu. Oleh karena itu setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menjatuhkan (menggundul) oknum si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud surah 3, sesuatu. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka menggores kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur serat si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. aqiqah bandung Maka Rasul SAW berfirman, “Gantilah kebiasaan itu beserta minyak wangi”.[HR. Putri Hibban secara tartib Putri Balban surah 12, hal. 124]

Pelaksanaan aqiqah dari sisi kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW berfirman, “Seorang keturunan terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka di hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih di dalam hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah semua. Karena rukun ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan gak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berlandaskan sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan bila tidak dapat melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka siap dilaksanakan pada hari ke empat belas kasihan, dan jikalau tidak bisa, maka di hari ke dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah atas ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, ke 4 belas, & ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih tidak mampu dipastikan kapan saja pelaksanaannya pada kala telah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. & boleh juga melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Bocah yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, terutama meskipun momongan yang keluron dengan syarat sudah berusia empat kalendar di dalam perut ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si momongan. Namun apabila seseorang yang belum pada sembelihkan hewan aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, maka dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan kalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh sebab itu hal itu tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, dipastikan pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa pun, maka dalam hari kedua puluh wahid. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Namun demikian, apabila ternyata tatkala kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri dalam saat dewasa. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi ketika kecil, jadi lebih elok melakukannya seorang diri saat mendalam. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal adalah satu termuda baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain mono domba mono domba. ” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kalian harus mengerti bahwa Rancak dan Husain adalah anak kembar. Oleh karena itu pada mono kelahiran tersebut disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 upaya untuk bujang perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengarahkan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor sedia dan daripada anak perempuan satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor domba yang cocok dan dari anak cewek satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang anak

1. Disunnatkan untuk memberi nama & mencukur serabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir saat hari Ahad, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang bagi anak perempuan 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan lawan orang tua si anak, namun demikian boleh juga dilakukan sambil keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di kondisi telah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk anak laki-laki dan wahid ekor kibas untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan gelandangan miskin juga bisa diberikan kepada orang2 non-muslim. Lagi pula jika hal itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya dan dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi membaham orang rendah, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada ketika itu ialah orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga pun boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah jantan atau perempuan, sebagaimana tambo di bawah ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia tahu bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak cewek satu upaya kambing. Tidak menyusahkanmu cantik kambing tersebut jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan aku belum meraih dalil lainnya yang menunjukkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasar pada dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 semenjak kelahiran budak tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Tentang hal dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat & tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada umat islam, dan boleh mengundang sohib-sohib dan suku untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Rumpun Bazz mengatakan: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang manusia yang tuan lihat layak diundang atas kalangan nenek, tetangga, sobat-sobat seiman dan sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, & hal sekeadaan dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi kalau ada signifikansi antara arti sebuah sebutan dengan yang diberi pamor. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sekitar nash syari yang memproklamasikan hal tersebut.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam seri berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna tersebut diambil darinya dan seumpama nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang menurut Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putra Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa bersuara keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang elok yang layak diberikan adalah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Atas Jabir Ra dari Rasul SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik pendapat ajaran Islam, silahkan kelompok:

Memberi Sebutan Bayi alias Anak Secara Islami


Menjatuhkan Rambut

Menyikat rambut ialah anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein lalu beliau menyedekahkan galuh seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan secara rata; tidak boleh hanya mencukur sebagian kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serat yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) atas Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa bocah baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk bujang ini secara kalimat Tuhan Yang Simpan dari segala gangguan syaitan dan seloroh binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu buah situs punya beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Tuhan SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Dalam aqiqah itu mengandung bagian perlindungan atas syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir tersebut, dan itu sesuai secara makna hadits, yang berarti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari huru-hara syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Hal inilah yang dimaksud per Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua orang-orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) mendapatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mengecap syukur kepada karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya sang anak.

5. Aqiqah serupa sarana mengadakan rasa rewel dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah mendindingi ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan tetap banyak sedang hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Go Back

Comment